Senin, 22 Oktober 2012

MENCERMATI KEGELAPAN


Sekian waktu yang merangkak menurutku, sepertinya payah menguraikannya walau cukup satu alasan, mengapa kurang memalingkan pandangan ke arahku yang sedang mengamatinya?

Aku diam... Kutanya apa alasan waktu membiarkan aku terlena dalam pengamatan awas. Adakah yg berani menjawab? Dalam diam, berputarlah aneka rasa. Aku yg serakah, aku yang perfect, aku yg manja.....apakah mungkin waktu mau menjawab pertanyaan itu?

Kuamati orang yang lewat, satu demi satu tanpa pedulikan aku. Sepertinya memaklumi yang aku perbuat, yang sebenarnya aku sedang mengadu pada waktu yang suka menelantarkan aku.

Sadis memang dunia!!! tapi aku juga milik dunia. Berarti aku sadis juga! ya, memang...! Serakah dan manja sehingga lupa mendengar kata waktu yg susah kuselami maksudnya. Kupejam mata, yang sesungguhnya terpaksa.

Apa yang kudapatkan? Gelap!!

Sekarang aku memikirkan gelap. Banyak orang takut gelap, termasuk aku. Tapi gelap itu asyik. Banyak perlakuan yang tak terlupakan di saat gelap. Aku dan anda semua juga mungkin akan mengiyakan hal itu. Kembali, aku ke waktu tadi. Waktu masuk ke dalam moment gelap! Brarti waktu adalah bagian yang mengasyikan. Pertalian itu membuka sedikit tabir keingintahuanku tentang tanya alasan waktu yang membiarkanku sendiri tadi berpusing-pusing pikir.

Jangan dulu omomg Tuhan, sekarang bahas soal dunia. Aku kaitkan lagi hal yg merambat tadi. Mulai dari waktu yg merangkak, alasan penggambaran diri, suasana diam yug tidak peduli, manusia lain yang tak gubris, pejaman mata yg sengaja, gelap yg mengasyikan, dan rasa yang membuatku kembali ke waktu.

Oh.. ternyata tak perlu tanya waktu yang sombong.. Aku yang sombong..! kenapa?

kurang menghargainya. Pantas saja dia merangkak tanpa perhatikan aku. Aku diabaikan, dan harus diabaikan karena cuma menunggu dan menunggu. Dari menunggu yg diam itu, bukan membuka cakrawalaku soal berdamai dengan waktu. Itu bukan solusi lalu...... Aku harus maklumi orang tidak peduli. gampang alasannya; karena aku diam.

Sekali lagi aku pejamkan mata, bukan kalah, bukan istirahat, bukan berpikir pula. Cuma aku baru tau disaat aku pejam mata, aku rasa gelap. Dan gelap menurutku mengasyikan(karena perbuatan yg banyak hasilkan dosa justru di saat gelap).

Lantas, aku mengerti kini, gelap adalah sebagian kecil dari waktu. Waktu adalah bagian yang memberikan ruang untuk suatu keasyikan. Kalau begitu, apakah aku harus berasyik-asyikan (gelap) dalam nuansa ketidakpedulian manusia lain sehingga waktu memvoniskan aku tidak mengindahkannya?

walahualam..

Minggu, 21 Oktober 2012

EMBUN: Memandang Tak Mengusik

Kali ini aku mulai dgn sebuah kata.."EMBUN"..!
Banyak yg tak gubris dengan keberadaan embun, tak kecuali aku.. Teringat di kampung semasa bocah, di musim mangga spt skrg ini, pagi2 benar sudah bangun hanya utk mencari mangga yg jatuh pd mlm tadi.. Menerjang embun tentunya, pulang rumah dgn celana sebagian basah.. Gusar..! Pagi2 masih dingin, ditambah embun yang lebih mendinginkan lagi..

Sekarang, di pagi yang kesekian kalinya sepanjang napasku..., aku terbuai embun.. Aku pikirkan embun yg terabaikan.. Sederhana bentuknya, dan keberadaannya sekiranya cuma 'sebentar' lalu lenyap...
Embun, percikan air yg semulanya tanda hidup. Namun bentuknya mungil, seakan2 tidak mungkin mendongkrak kehidupan yg sering dilambangkan dgn air..padahal, kita tau air itu lambang kehidupan.. Aku telusuri kedalaman diriku...dgn seonggok pertanyaan tentang embun..

Dalam kemalasanku pagi ini, kusempat terjang ilalang dibelakang rumah, hanya ingin pastikan keberadaan embun...! Segar...! Kuteliti sehelai ilalang yg agak mengering, di ujungnya terbalut embun.. Bening..! Kupandang tanpa menyentuh..! Kulihat wajahku tercantum mungil di permukaan embun itu.. Ahh... Aku sedang berkaca..!

Kembali ke hatiku pagi ini, trnyata aku ada di embun bila aku meneliti lebih dekat dan dekat skali tanpa mengusik ketenangannya di pagi nan penuh asa..! Saudaraku, aku temukan hikmah di tengah keterasingan embun yg susah aku pedulikan..! Aku mengaplikasikan embun pada sekelumit kehidupanku bersama semua orang yg pernah dan akan kujumpai..

Aku dekatkan diri pada embun, memandangnya, menelitinya, tanpa mengusik keberadaannya, melambangkan kedekatanku pada siapapun sesamaku.. Bila aku lebih dekat, tentu aku belajar tentang dia.. Aku teliti, sama artinya aku bersahabat.. Dan kutemukan seberkas wajahku di permukaan bentuk embun menandakan bahwa diriku adalah bagian perhatiannya..

Dikaulah embun, sesamaku, sahabatku, saudaraku...! Aku bisa memandangmu, menikmatimu, dan engkaupun akan menangkap keberadaanku sepanjang aku tak mengoyak pun menghalau hadirmu...!

Memang sesaat engkau ada, lalu sirna ditelan angin dan mentari...tp esok engkau kan mencuat lagi dan lagi...! Mencintai, tak semestinya memiliki..! Bersahabat tak seharusnya mengetahui lebih banyak tentangnya dgn menyentuh dirinya yg mungkin privasi buatnya...!
Embun, engkau telah memberi aku asa...!
Embun, walau rentan di ujung daun, engkau masih sanggup meraup wajahku, asalkan aku memandang lebih dekat. Justru karena rentanmu, kumau tak seorangpun mengusik hadirmu, kecuali alam yg telah menjadikanmu..
Embun, aneka tembang telah banyak mengukir namamu..
Dan sekarang aku, kembali mengukir namamu di sini, di seputar sahabat-sahabatku yg ternyata kuibaratkan dengan dirimu.. Sahabat, engkaulah embun...! Yg sewajarnya aku berkaca, aku belajar...! Aku termenung, aku senyum sendiri dan akupun puas, bahwa embun pagi ini telah menggugah hatiku untuk menulis kembali di sini...!
Semoga..

KECEWAKAN ORANG: Suatu Keharusan

"Jangan pernah mencoba untuk menyenangkan setiap orang."

Aku terkesima dengan penggalan kalimat diatas. Kadang tidak akan habis aku berpikir. Tapi kadang pula mengerti sambil manggut-manggut... "Oh begitu ya..!"

Realis. Simpel saja, jika kita hidup untuk menyenangkan orang lain(apalagi semua orang), apakah arti hidupmu sesungguhnya? Jika aku mencoba untuk menyenangkan semua harapan-harapan yang digantungkan orang-orang padaku dalam waktu yang bersamaan, tentu aku tak sanggup.

Mungkin bagi orang-orang yang menggantungkan harapan padaku akan senang-bahagia bila aku menyanggupinya. Dan juga akan kecewa bila aku mengabaikan harapan orang-orang tersebut. Sewaktu kecil, kita dihadapkan aneka harapan orang tua, kamu harus begini dan begitu jika besar nanti. Saat remaja, kamu pacaran harus begini, harus begitu menyenangkan pacarmu...

Tentang menyenangkan pacar kita, memang gampang-gampang susah. Saling menggantungkan harapan dalam berpacaran, itu bagus dan menyenangkan. Pada bagian lain, aku dihadapkan dengan duniaku dengan manusia yang bermacam-macam sifat, tentu harapan.

Ada harapan orang-orangku, bahwa aku harus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta yg penuh cinta kasih pada semua orang terpinggirkan. Ada pula menginginkan aku seperti Thomas Alfa Edison yang tidak menyerah dalam menemukan sesuatu. Juga, aku harus jadi seperti ayahku yang seorang guru.. Atau bahkan menjadi Yesus yg mengorbankan diri untuk semua orang..?

Aku diam...
Pola mana yang semestinya aku ikuti, banyak pilihan. Ah..yang penting jadi orang baik saja menurut diri sendiri, apakah cukup? Bukankah 'baik' itu relatif?

Kembali ke hal menyenangkan orang lain. Aku melakukan hal ini karena ingin dikau senang. Dalam "You Have the Power to Create Love", kutemukan kalimat ini: "Aku percaya bahwa jika aku melakukan apa yang diinginkan Penciptaku, Aku akan mengecewakan banyak orang.."

Aku telah menerima kenyataan itu..! Bisa begitu? Jawabnya..ya begitulah. Aku bukan Bunda Teresa, bukan Edison, bukan orang kudus, bukan Yesus, bukan ayahku, bukan pacarku...

Aku adalah Eman...! Dan aku senang bisa jadi seorang Eman(bukan egois). Tuhan telah menciptakan aku untuk menjadi Eman dengan semua kelemahan, kelebihan, kegilaan dan keanehanku. Banyak orang akan kecewa denganku karena belum sempat atau tidak sempat sama sekali menyenangkan mereka.

Sama seperti anda, cobalah untuk tidak menyenangkan setiap orang. Jadilah anda seperti diri anda apa adanya. Jangan lupa, anda harus kecewakan orang...! Ketahui panggilan anda. Dan jawablah panggilan itu seturut Penciptamu..! Sadis memang...

Maksudku menulis ini kira-kira, bahwa kita harus setia pada diri sendiri. Aku mengecewakan banyak orang karena lalai menyenanginya, tapi aku mengetahui panggilanku akan Penciptaku.
"Mengikuti Penciptamu, mengecewakan banyak orang."

Belajar Pembiasaan

....Teman, hari ini aku belajar melupakanmu...!

Detik terus berlalu. Tak mampu membendung rindu menggunung. Tapi bertahan untuk sesuatu yang mungkin saja lebih menjanjikan daripada yang bergelut dengan kebiasaan. Terngiang di telinga, percakapan telpon seorang teman maya. Katanya, "Aku harus belajar membiasakan diri dengan keadaan sekarang ini..!"

Semenjak tidak dipedulikan orang yg sangat disayanginya, temanku itu perlahan berusaha melupakannya. Sulit rasanya menerima kenyataan. Aku diam menyimak kisahnya. Dan tanpa tanggapan saat itu, yang ada cuma penggalan kalimat yg mungkin tidak asing lagi bagi kita bahwa belajar membiasakan diri dengan pengalihan situasi. Apalagi situasi yang menyangkut perasaan hati.

Kisah itu sebulan telah berlalu... Seminggu lebih aku libur online di tempat chatt manapun yg sudah kugeluti sekitar 4 tahun. Senada dengan ucapan teman tadi. Aku coba menirunya "belajar membiasakan' diri. Hari pertama libur, aku mengalihkan kebiasaan chatt dengan tidur saja. Sukses..! Hari kedua libur, masih coba dengan tidur. Tapi tidak seharusnya hari-hari selanjutnya. Akhirnya hari ini kalah total. Aku kembali ke hoby ini-chatt...! Tergoda..?

Kalimat teman maya itupun cuma sebatas desiran angin lalu. Dan aku salut dengan temanku itu. Sebulan berlalu, nampaknya dia telah terbiasa dengan suasana sekarang. Beda latar cerita. Tapi intinya mungkin seperti ini: bahwa sebaiknya aku berani melakukan hal yang baru, tekad yg teguh, membuang sesuatu yang sungguh-sungguh sudah berurat akar dalam bentuk kesenangan diri.

Jika aku tidak berani, datar saja kehidupanku. Apalagi kata orang-orang hebat bahwa hidup adalah soal keberanian. Termasuk berani melupakan kesenangan. Teman maya mengajariku bagaimana menyikapi diri sendiri, entah terpaksa melupakan, entah belajar mencintai hal suasana yang baru, atau bisa juga karena niat hati. Mungkin selaras dengan putus cinta. Harus merelakan yang telah lewat.

Memulai yang baru, walau belum ketemu tapi setidaknya membiasakan diri kembali sendiri. Susah dimengerti. Aku tulis ini merupakan suatu gambaran singkat, bahwa kita harus bersedia merelakan hal kesenangan diri berlalu. Dan berusaha membiasakan diri menggeluti pengalaman yang baru. Hanya saja buatku untuk berhenti kegiatan interaktif di dumay, kayaknya aku belum siap.

Tapi dengan pengalaman libur seminggu kemarin, sedikit banyaknya telah memberi pembelajaran buatku bahwa aku bisa melakukannya lagi di suatu hari. Temanku berhasil. Dia sudah melupakan kekasihnya. Walau masih sedikit sisa2 rasa apabila kesendirian menggelayut waktu dan pikiran.

Thanks teman... Pembelajaran biasa telah kugambarkan di sini, hari ini..

DAUN

Aku terdiam dalam keriangan bukan ingin beda dari lainnya... Pun sensasi tak kugubris..
Kupandang sehelai daun yang tak berdaya, sisa kehidupan mungkin tinggal setitik...
Kau yang kerontang, tak biarkan sehelai kehidupan pertontonkan eksistensinya?

Wahai musim yg bergulir...ijinkan ragaku segar menelusuri jalur-jalur kepenatan..
Aku mendesah dari kenangan... Daun yang rapuh, sudah saatnya engkau gugur...!

Salahkan lambaian bayu yg sesukanya merenggutmu dari ranting...
Salahkan jilatan mentari yg seenaknya melumat rentanmu...
Salahkan kerinduan tanah yg senantiasa menanti kejatuhanmu...

Engkau telah banyak memberi...
Karenanya terima kasih layak kau cicipi..
Engkau yg terabaikan angin...
Wajarlah ragamu rapuh..

Kupuji keikhlasanmu..
Kusalut pengorbananmu..
Akan kuupayakan sepertimu...
Sebisaku...
Kapanpun...

Dan kini sementara aku telusuri...
Selaras kuperhatikan ragamu dari kejauhan...
Engkau masih sehelai daun...