Kesekian kalinya aku ke pantai yang sama, kesekian
kalinya pula aku dapatkan inspirasi yang sekiranya aku berbagi. Saat berjalan
menyusuri pantai dengan pikiran kosong, berhentilah aku di suatu tempat untuk
memungut kerang, dan disitu juga aku mengamati batu kerikil yang berwarna.
Tanpa disadari ketika aku berjalan dengan seenaknya di atas pasir yang basah,
aku meninggalkan jejak-jejak kaki di belakangku dalam bentuk yang tak
beraturan. Aku tertegun sambil memandang jejak-jejak kaki yang kuciptakan itu.
Dan, ah.. peduli amat..! Emang gue pikirin..? Sementara itu seorang nelayan
mendekatiku. Setelah bercakap sekedar tanya tujuanku di tempat itu, dengan
gamblang si nelayan itu mengatakan padaku agar cukuplah melintas di areal
pantai tersebut dan memintaku untuk datang lagi esok pagi. Aku heran, kenapa
melarangku..?
Gumamnya pelan saja, 'Hari ini sudah banyak kau membentuk jejak-jejak kaki disini.. Dan kau akan mengertinya esok ketika engkau kesini lagi.' Aku mengikuti anjurannya, pulang dengan seonggok kebingungan! Mungkin si nelayan benar, karena itu daerahnya mencari nafkah, atau mungkin tempat itu ada jin penunggu yang seharusnya kuwaspadai.
Gumamnya pelan saja, 'Hari ini sudah banyak kau membentuk jejak-jejak kaki disini.. Dan kau akan mengertinya esok ketika engkau kesini lagi.' Aku mengikuti anjurannya, pulang dengan seonggok kebingungan! Mungkin si nelayan benar, karena itu daerahnya mencari nafkah, atau mungkin tempat itu ada jin penunggu yang seharusnya kuwaspadai.
Tapi kenapa esok ke tempat itu lagi..?
Apakah dia buat perhitungan denganku..? Sesampainya di rumah, aku menulis di
buku harianku... 'hari ini aku mencemari pasir pantai dengan jejak kakiku yang
tak beraturan.' Hari ini..., esok dari hari kemarin, aku kembali ke pantai itu.
Penasaran dengan kata-kata nelayan....'esok kau akan mengerti'.
Hampir sama
seperti kemarin, aku berdiri di tempat yang dijanjikan nelayan. Tak lama, si
nelayan itupun datang! Sambil jabat tangan dia berkata, 'ternyata kau
benar-benar mencari pengertian.'
Ya.. jawabku antusias. 'Bro, kau hitung berapa jejak kaki yang kau buat kemarin
sebelum kita bertemu di tempat ini? Katanya membuka dialog.. Aku
menggeleng...'lupa hitung.'
Oke! tidak apa-apa! Sekarang kamu hitung, berapa
jejak kaki yang kau tinggalkan kemarin itu yang sekiranya sekarang masih
tampak..?' Aku tambah bingung, dan... 'tak ada satupun..' Lalu kami sama-sama
diam! Aku dengan pikiranku, dia dengan pikirannya sepertinya tak
connect..!
'Bro, Tuhan itu mungkin salah satu sifat-Nya seperti itu...!'
Kenapa..? Kemarin engkau sudah mencemari pasir ini dengan jejak kaki. Sekarang
engkau ulangi lagi. Tapi engkau sadar atau tidak bahwa Dia di atas sana maha
pengampun, yang sudi menghapus jejak kakimu..? Aku tersenyum kagum! Kemarin
bikin dosa(jejak kaki), sekarang bikin lagi...!
Si nelayan pergi tanpa pamit!
Hanya aku yg terpaku sembari manggut-manggut..! Orang itu memberiku wejangan ringan tapi sangat aku terima...! Saudaraku, Tuhan maha pengampun..! Tak salah aku berdoa: “TUHAN, Jangan memperhitungkan dosa ku tapi perhatikanlah imanku....”
Hanya aku yg terpaku sembari manggut-manggut..! Orang itu memberiku wejangan ringan tapi sangat aku terima...! Saudaraku, Tuhan maha pengampun..! Tak salah aku berdoa: “TUHAN, Jangan memperhitungkan dosa ku tapi perhatikanlah imanku....”